March 3, 2021 By dailychevrolet3s.com 0

Tesla Bangun Pabrik di India, Departemen BUMN: Kita Tidak Kecolongan

Industri kendaraan listrik Tesla lebih memilah India buat membangun pabrik mobil dibanding Indonesia. Disebutkan, terdapat sebagian aspek yang membuat Tesla minggat, semacam pajak sampai birokrasi.

Kendati, Juru Bicara Departemen BUMN Arya Sinulingga menegaskan, Indonesia tidak merasa kemalingan gegara pabrikan mobil listrik tersebut bertolak ke India.

Sesungguhnya Tesla kan buat mobil, nah kita kan bukan buat mobil. Kami kejar Tesla bukan dari sisi buat mobil, tetapi di sisi EV Battery- nya ataupun di chargingnya. Sebab kita semenjak dini tidak bicara membangun mobilnya, tetapi industri EV battery- nya,” ucap Arya dalam siaran langsung tv swasta, Kamis( 4/ 3/ 2021).

Arya menegaskan, tujuan kerjasama Tesla dengan Indonesia berbeda.

” Makanya kala kemarin dikatakan Tesla ke India, ya, kita tidak kemalingan, sebab kita bukan ingin bangun pabrik mobil listrik,” tandasnya harga mobil listrik .

Dalam peluang yang sama, Pimpinan Regu Kerja Percepatan Pengembangan EV Battery BUMN serta Komisaris Utama PT MIND ID Agus Tjahajana berkata, grupnya lebih condong buat menunggu keputusan kerja sama tersebut.

” Diskusinya dengan kami belum lumayan matang. Kami siap saja sesungguhnya Tesla ingin dimana saja, kami sajikan lahannya jika dibutuhkan, jika tidak ya, tidak apa- apa. Kita pada posisi yang lebih banyak menunggu saja,” katanya.

Tesla Seleksi Investasi di India Dibanding Indonesia, Gara- Gara Pajak?

Preferensi pabrikan kendaraan listrik Tesla buat memilah India buat membangun pabrik alih- alih di Indonesia mesti jadi pelajaran buat pemerintah. Ekosistem investasi nasional masih jadi momok buat investor global menanamkan modalnya di tanah air.

Direktur Eksekutif Indef Ahmad Tauhid berkata, bayaran investasi yang hendak dikeluarkan Tesla di India jauh lebih murah dibanding Indonesia. Itu alibi kenapa Indonesia kandas diseleksi Tesla.

“ Terpaut bayaran investasi, terdapat 2 perihal kenapa Tesla kesimpulannya lebih memilah India, awal merupakan soal pajak, di Indonesia walaupun terdapat keringanan pajak kendaraan listrik, tetapi buat Tesla hawa pajak di India jauh lebih baik dibanding Indonesia,” ucapnya, dilansir Rabu( 24/ 2/ 2021).

Hawa pajak dipaparkan Ahmad tidak hanya soal tarif melainkan soal kemudahan, dan birokrasi yang lebih kilat serta gampang. Ada pula alibi kedua merupakan soal tenaga kerja, industri kendaraan listrik di India sudah jauh lebih tumbuh dibanding di Indonesia. Walhasil tenaga kerja di India mempunyai keahlian yang lebih dibanding di Indonesia yang baru mengawali pengembangan industri kendaraan listrik.

Penumpukan hal- hal tersebut yang bagi Ahmad jadi alibi Tesla mengurungkan niatnya melaksanakan perluasan di Indonesia. Dia memperhitungkan investasi yang dikeluarkan Tesla di Indonesia hendak jauh lebih mahal dibanding di India.

“ Jika soal SDM( sumber energi manusia) memanglah lumayan perlu waktu panjang buat pengembangannya, makanya pemerintah mesti menghasilkan hawa yang menunjang investasi, pajak yang lebih murah misalnya, sebab ini bukan hanya jadi hambatan Tesla, beberapa industri asal Jepang pula kerap mengeluhkan perihal ini,” sambungnya.

Perihal senada diungkapkan Ekonom Center of Reform on Economics( CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Baginya, tidak hanya Tesla, masih banyak rencana investasi asing yang berminat masuk ke Indonesia, tetapi masih ragu serta mempunyai banyak pertimbangan.

Baca Juga : 5 Hal Yang Perlu Diketahui Sebelum “membungkus” Mobil Anda

Salah satunya menimpa perpajakan.

Memanglah betul Indonesia telah mempunyai tax holiday, namun tidak banyak yang memakainya dengan bermacam aspek. Salah satunya sebab insentif pajak tersebut tidak cocok dengan kebutuhan investor. Sebab bila dilihat, investor yang berkomitmen buat berinvestasi tiba dari bermacam tipe industri sehingga tidak dapat dipukul rata.

Itu sebabnya, Yusuf bilang, pemerintah butuh memikirkan pemberian insentif bersumber pada kebutuhan industri yang hendak dibidik oleh investor. Pasti, ini memerlukan usaha yang lebih besar buat menghitung kebutuhan insentif masing- masing zona serta berapa lama imbal hasil tiap- tiap zona.